Label

bisnis (19) sejarah (3) Inspirasi Bisnis (2) Investasi (2) marketing (2) Ilmu (1) Ilmu Ekonomi (1) motivasi (1) politik (1)
Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Februari 2014

Marketing Mix



PENGERTIAN STRATEGI

Pengertian Strategi adalah ilmu dan seni menggunakan kemampuan bersama sumber daya dan lingkungan secara efektif yang terbaik. Terdapat empat unsure penting dalam pengertian strategi, yaitu kemampuan, sumber daya, lingkungan, dan tujuan. Emapt unsur tersebut, sedemikian rupa disatukan secara rasional dan indah sehingga muncul beberapa alternative pilihan yang kemudian dievaluasi dan diambil yang terbaik.
Dalam bidang manajemen, definisi mengenai strategi cukup beragam dan bervariasi dari beberapa ahli dan pengarangnya.. Gerry Johnson dan Kevan Scholes (dalam buku ”Exploring Corporate Strategy”) misalnya mendefinisikan strategi sebagai arah dan cakupan jangka panjang organisasi untuk mendapatkan keunggulan melalui konfigurasi sumber daya alam dan lingkungan yang berubah untuk mencapai kebutuhan pasar dan memenuhi harapan pihak yang berkepentingan.
 Henry Mintzbeg mendefiniskan strategi sebagai 5P, yaitu strategi sebagai PERSPECTIF, strategi sebagai POSISI, strategi sebagai PERENCANAAN, strategi sebagai POLA kegiatan, dan strategi sebagai PENIPUAN (Ploy) yaitu muslihat rahasia. Sebagai Presektif, dimana strategi dalam membentuk misi, misi menggambarkan perspektif kepada semua aktivitas.
Dari berbagai pengertian dan definsi mengenai strategi, secara umum dapat didefinisikan bahwa strategi itu adalah rencana tentang serangkaian manuver, yang mencakup seluruh elemen yang kasat mata maupun yang tak kasat mata, untuk menjamin keberhasilan mencapai tujuan.

PENGERTIAN PEMASARAN
Ada beberapa definisi mengenai pemasaran dari beberapa ahli diantaranya adalah :
a.            Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
b.           Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu atau kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dagang orang lain.
c.            Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi, dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.
Kesimpulan tentang definisi Pemasaran adalah suatu perpaduan dari aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan untuk mengetahui kebutuhaan konsumen serta mengembangkan promosi, distribusi, pelayanan dan harga agar kebutuhan konsumen dapat terpuaskan dengan baik pada tingkat keuntungan tertentu.
Dengan adanya pemasaran konsumen tidak perlu lagi memenuhi kebutuhan pribadi secara sendiri-sendiri dengan melakukan pertukaran antara konsumen dengan pelaku pemasaran sehingga akan ada banyak waktu konsumen untuk kegiatan yang dikuasai atau disukai.
Dalam pemasaran ada yang disebut marketing mix / bauran pemasaran. Ada 4 macam, yaitu :
1.    Produk : Barang Industri.
ü Barang konsumsi : Conulnien Goods { kebutuhan sehari-hari }
ü Special { barang spesial }
ü Shopping { pembandingan harga }
ü Unsought { ready stock }
2.    Price : Penetapan Harga
3.    Place : saluran distribusi yang di pakai : Distribusi Intensif { banyak penyalur }
ü Distribusi Extensif { beberapa penyalur }
ü Distribusi Ekslusif { 1 penyalur }
4.    Promotion : Pemberian informasi kepada konsumen agar, tertarik dan ingin membeli
Promotion Mix ada 4, yaitu :
ü Publisitas yaitu memberikan gambaran tentang manfaat dan kelebihan produk
ü Personal Selling yaitu promosi dari rumah ke rumah
ü Periklanan yaitu pemberian informasi mengenai diskon / sale
ü Promosi Penjualan yaitu pemberian potongan penjualan

PENGERTIAN STRATEGI PEMASARAN
Strategi pemasaran adalah pengambilan keputusan-keputusan tentang biaya pemasaran, bauran pemasaran, alokasi pemasaran dalam hubungan dengan keadaan lingkungan yang diharapkan dan kondisi persaingan. Dalam strategi pemasaran, ada tiga faktor utamayang menyebabkan terjadinya perubahan dalam pemasaran, yaitu :
1.    Daur hidup produk
Strategi harus disesuaikan dengan tahap-tahap daur hidup, yaitu tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan, dan tahap kemunduran.
2.    Posisi persaingan perusahaan di pasar
Strategi pemasaranharus disesuaikan dengan posisi perusahaan dalam persaingan, apakah memimpin, menantang, mengikuti atau hanya mengambil sebagian kecil dari pasar.
3.    Situasi ekonomi
Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan situasi ekonomi dan pandangan ke depan, apakah ekonomi berada dalam situasi makmur atau inflasi tinggi.

Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berada dengan memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda atau segmentasi pasar bisa diartikan segmentasi segmentasi pasar adalah proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli dipasar produk, menganalisa perbedaan antara pembeli dipasar.
1.    Dasar-dasar dalam penetapan segmentasi pasar
Dalam penetapan segmentasi pasar ada beberapa hal yang menjadi dasarnya, yaitu :
a.     Dasar-dasar segmentasi pasar pada konsumen
ü Variabel geografi, diantaranya : wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan iklim.
ü Variable demografi, diantaranya : umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan dll
ü Variabel perilaku pembeli, diantaranya : manfaat yang dicari, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan dan sikap pada produk.
b.    Dasar-dasar segmentasi pada pasar industry
ü Tahap 1 : menetapkan segmentasi makro, yaitu pasar pemaki akhir, lokasi geografis, dan banyaknya langganan.
ü Tahap 2 : yaitu sikap terhadap penjual, cirri-ciri kepribadian, kualitas produk, dan pelanggan.
2.    Syarat segmentasi pasar
Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif, yaitu :
ü Dapat diukur
ü Dapat dicapai
ü Cukup besar atau cukup menguntungkan
ü Dapat dibedakan
ü Dapat dilaksanakan
3.    Tingkat segmentasi pasar
Karena pembelian mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik. Setiap pembeli, berpotensi menjadi pasar yang terpisah. Oleh karena itu segmentasi pasar dapat dibangun pada beberapa tingkat yang berbeda.
a.     Pemasaran massal
Pemasarn massal berfokus pada produksi massal, distribusi massal, dan promosi massal untuk produk yang sama dalam cara yang hamper sama keseluruhan konsumen.
b.    Pemasaran segmen
Pemasaran segmen menyadari bahwa pembeli berada dalam kebutuhan, presepsi, dan perilaku pembelian.
c.     masaran ceruk
Pemasaran ceruk (marketing niche) berfokus pada sub group didalam segmen-segmen. Suatu ceruk adalah suatu group yang didefinisikan dengan lebih sempit.
d.    Pemasaran mikro
Praktek penyesuain produk dan program pemasaran agar cocok dengan cita rasa individu atau lokasi tertentu. Termasuk dalam pemasaran mikro adalah pemasaran lokal dan pemasaran individu.

Selasa, 04 Februari 2014

Belanja

    (Hermawan Kartajaya)

    Ini adalah The Buzzword of Today di dunia pemasaran. Saya belum menemukan terminologi yang tepat dan pas dalam bahasa kita, tanpa kata-kata itu kehilangan makna. Saya pikir, apa salahnya untuk sementara menggunakan kata-kata tersebutsupaya bisa menghayati maknanya. Sebab, itulah gejala yang memang terjadi saat ini. Kini konsumen makin pintar menilai benefit yang ditawarkan dibandingkan dengan harga yang harus mereka bayar. Konsumen Jepang, misalnya, yang selama bertahun-tahun mau membayar harga lebih tinggi utnuk produk yang sama, sekarang sudah tidak mau lagi. Merekamenuntut kualitas tinggi dengan harga yang wajar.

     Runtuhnya bubble economy merupakan indikator bahwa mereka tidak mau lagi membeli produk yang sama dengan banyak ekstra-yang sebenarnya tidak mereka butuhkandengan harga tinggi. Mereka jadi sadar bahwa dengan begitu, nilai sebenarnya yang mereka terima rendah.

   Itulah yang menyebabkan makin tumbuh suburnya discount store di sana yang membeli langsung dari supplier, dan menghindari saluran distribusi tradisonal yang panjang dan berbelit. Untuk memberikan suatu nilai yang tinggi kepada konsumen, para pengecer berani memotong distributor yang tidak memberikan nilai tambah sesungguhnya. Di Tokyo, saya melihat sendiri, bagaimana toko-toko eceran diskon, misalnya Aoki dan Aoyama, menjamur dan tumbuh pesat.

  Meraka ada di mana-mana dan cuma menjual pakaian laki-laki. Mereka memerangi kemewahan dekorasi interior secara drastis, karena hal terebut tidak memberikan niali sesungguhnya untuk konsumen. Toko mereka rata-rata kecil dan sederhana, dengan demikian bisa menghemat ongkos. Selain itu, mereka juga berusaha mendesain dan membuat produk terbut berdasrkan kualitas tertentu.
  Mereka bisa mendikte produsen, karena mereka tahu persis apa yangg benarbenar bernilai untuk konsumen. Selain itu, mereka menguasai akses pada konsumen dengan memiliki banyak toko eceran. Dengan demikian, mereka bisa menggunakan brand-name mereka sendiri.
   Di New York, saya melihat gejala sebaliknya. Ada iklan dari sebuah produsen jas yang langsung menunjukkan manfaat bagi konsumen dengan membeli produk mereka dibandingkan dengan merek lain. Iklan tersebut mebandingkan materi yang dipakai, desain yang praktis untuk para eksekutif, garansi yang diberikan, dan kenyamanan yang

didapat terhadap harga yang dipasang. Dengan begitu, produsen tersebut lantas mengklaim bahwa merek mereka bisa memberi nilai tertinggi bagi konsumen ketimbang merek lain.

   Berbeda dengan ‘iklim’ di Indonesia, mereka langsung comparative-ad dalam hal tersebut. Dua hal yang saya ceritakan di atas punya ‘perbedaan’ sekaligus  persamaan’. Di Tokyo, usaha untuk memberikan value bagi konsumen dilakukan oleh discount store. Di New Yrok, hal itu dilakukan produsen. Jadi, yang mengambil inisiatif berhak memperoleh brand-equity.
     
  Bagaimana dengan Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia ? Apakah konsumen kita masih akan tetap bertahan pada “gensi” atau sebagian besar sudah beralih ke “nilai”? Menurut saya, kita justru harus berpikir sebaliknya. Sebagian besar konsumen kita justru harus berpikir sebaliknya. Sebagian besar konsumen kita justru masih peduli akan “nilai”.

    Para yuppies atau kaum snob di Indonesia jumlahnya belum besar dan mungkin saja mereka tetap kepingin trendy. Dalam arti ingin kelihatan “lain dari yang lain”, walaupun harus hidup “di atas kemampuan”. Selain itu, memang ada segmen cherry red on top of the icecream, yang jumlahnya relatif kecil dan lebih image-oriented. Tapi yang harus diingat, globalisasi tidak bisa ditahan. Konsep warehouse-retail, contohnya Makro, yang sudah terbukti sukses, akan terus masuk ke Indonesia tanpa bisa di tahan olehregulasi apapun. Dan sudah terbutki, orang-orang yang berada disegmen cherry red itupun suka belanja di Makro. Saya tidak yakin, apakah mereka memang super-value-oriented atau cuma sekadar trendy.
    Anjuran Hermawan, adalah pekerjaan rumah bagi semua marketer di Indonesia untuk merenungkan gejala yang juga disebutkan Philip Kolter di Hotel Borobudur, Jakarta, Februari 1994, yaitu Super-Value-Marketing.