Label

Selasa, 04 Februari 2014

SARANA ILMU PENGETAHUAN

(Dalam Pandangan al-Ghaza>li dan Perspektif al-Qur’a>n)


Pendahuluan
Al-Qur’a>n adalah sumber ajaran Islam. Kitab Suci itu, menempati posisi sentral, bukan saja dalam hal perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan umat ini.[1]
Pada sisi yang lain, pandangan al-Ghazaly mengenai ilmu dengan menggunakan kaca mata filsafat mengatakan bahwa pilar  pertama penyangga hakikat ilmu adalah aspek ontology dan yang selanjutnya adalah aspek epistemology. Dalam kesempatan ini fokus kajian tertuju pada poin kedua, yakni epistemology. Spesifikasinya pada sarana pencapaian ilmu dalam pandangan al-Ghazaly.
Berawal dari peranan al-Qur’a>n sebagaimana tersebut di atas serta pendapat al-Ghazaly terkait sarana pencapaian ilmu dari segi filsafat, maka pada makalah ini penulis mencoba mengulas perspektif al-Qur’a>n terkait pandangan al-Ghazaly mengenai sarana pencapaian ilmu, tentunya dengan harapan mengetahui relevansi pemikiran al-Ghazaly dengan ayat-ayat yang termaktub di dalam kitab samawi terakhir itu. Sedangkan tafsir al-Azhar yang merupakan karya monumental Hamka serta beberapa literature karya M. Quraish Shiha>b penulis jadikan pisau pengupas mutiara di balik rangkaian indah ayat-ayat al-Qur’a>n pada makalah ini.

Sarana Pencapaian Ilmu
Sebelum berbicara mengenai masalah tersebut, terlebih dahulu perlu diperjelas pengertian ilmu yang dimaksud dalam tulisan ini. Al-Ghazaly secara tidak langsung mengutarakan bahwa yang dimaksud ilmu adalah mengetahui objek ilmu sesuai realitasnya.[2]Sementara al-Qur’a>n sendiri menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan” (QS 2:31-32).[3]
Dalam pencapaian ilmu, Al-Ghazaly mengenal tiga sarana pokok yaitu pancaindra (al-hawa>s al-khams) berikut common sense (khayal)[4] dan estimasi (wahm), akal, dan intuisi (zauq).      
Pancaindra bekerja di dunianya, dunia fisis-sensual, dan berhenti pada batas kawasan akal. Akal bekerja di kawasan abstrak dengan memanfaatkan input dari pancaindra melalui khayal dan wahm, dan berhenti pada kawasan transendental (tak terjangkau akal). Sedang informasi kewahyuan yang menurut akal irasional harus di-takwi>l, jika terbukti secara pasti bahwa ia datang dari nabi yang sejati.
Untuk lebih jelasnya, berikut bahasan mengenai ketiga sarana pencapaian ilmu tersebut:
Pancaindra
            Al-Ghazaly menyatakan bahwa pancaindra merupakan satu dari beberapa sarana pencapaian ilmu, karena pancaindra merupakan sarana penangkap yang pertama muncul dalam diri manusia, disusul dengan daya khayal yang menyusun aneka bentuk susunan, dari partikular-partikular yang ditangkap indra, kemudian tamyi>z (daya pembeda) yang menangkap sesuatu di atas alam empirik sensual, di sekitar usia 7 tahun, baru disusul dengan akal yang menangkap hukum-hukum akal dan hal-hal lain yang tidak ada pada fase-fase sebelumnya. Di sini indra penglihat merupakan indra yang paling dominan diantara indra-indra yang lain.
            Indra penglihat bukan tanpa celah kekurangan jika dibandingkan dengan sarana pencapain ilmu yang kedua yakni akal, sebagai tamthi>l indra penglihat tidak dapat melihat dirinya sendiri sedangkan akal mampu melihat dirinya ataupun yang lain, indra penglihat hanya mampu melihat sebagaian yang ada, tetapi tidak mampu menjangkau obyek akal seperti gembira, sedih, sedang bagi akal semua yang ada itu merupakan bagian dari wilayahnya, selanjutnya indra penglihat tidak dapat menangkap apa yang berada di balik tabir, bagi akal itu merupakan hal yang mudah bahkan ia mampu beroperasi hingga ke ‘arsy.
            Dengan adanya kekurangan itu bukan berarti menafikan hasil kinerja pancaindra yang begitu urgen bagi akal, buktinya akal hanya dapat mengetahui dunia fisis-sensual melalui pancaindra yang meneruskan laporannya kepada common sense dan estimasi sampai pada akal, artinya tanpa bantuan pancaindra akal tidak dapat mengetahui apa-apa tentang dunia fisis-sensual.
            Dalam pandangan al-Ghazaly pancaindra merupakan salah satu sarana pencapaian ilmu yang bersifat daru>riyya>t (yang kebenarannya mutlak dan tidak dapat ditolak). Tetapi diakui atau tidak bahwa al-Ghazaly sendiri juga pernah meragukan hal-hal yang bersifat aksiomatis seperti kemampuan indra untuk menangkap pesan, sebagaimana tertulis dalam salah satu karya atau terkadang juga dikatakan sebagai otobiografinya, al-Munqi>dh min al-Dhala>l.
            Al-Qur’a>n sendiri secara ekplisit merekomendasikan pancaindra sebagai salah satu sarana dalam memperoleh pengetahuan (ilmu dalam arti pengetahuan)[5]sebagaimana tersebut dalam surat al-Nahl 78:

78.  Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

            Ayat tersebut jika kita hubungkan dengan argument al-Ghazaly di awal yang menyatakan bahwa pancaindra merupakan sarana penangkap yang pertama kali muncul, maka dapat penulis ambil korelasinya bahwa al-Ghazaly memandang manusia selayaknya kertas kosong yang belum tersentuh oleh ujung pena sebelum menggunakan pancaindranya. Sebab dengan pancaindra itulah nantinya informasi yang didapat akan diproses dengan daya khaya>l kemudian dengan tamyi>z (pembeda) dan seterusnya sampai terwujud suatu pengetahuan.
            Dengan menggunakan mafhu>m muha>lafah dari ayat di atas, berikut penulis hadirkan ayat al-Qur’a>n yang bernada ancaman (sebagai bentuk ketidak-setujuan al-Qur’an) terhadap segolongan manusia yang tidak menggunakan pancaindranya untuk mencari pengetahun, bahkan derajat kita digambarkan lebih rendah dibandingkan dengan binatang ternak. Q.S. al-A’raf 179:
ôs
179.  Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.
                Dari ayat itu sebenarnya mengandung anjuran yang tegas, pergunakan hati buat memperhatikan, mata buat melihat, dan telinga buat mendengar, sehingga berakhir dengan kenal kepada Allah (ma’rifat), dan itulah ilmu.[6]
Akal
Menurut al-Ghazaly, terma “’aql” (akal) biasa dipakai untuk empat arti. (a) Gazirah (insting), yang dengannya manusia siap menangkap ilmu-ilmu a priori dan ilmu-ilmu inferensial yang dihasilkan dari eksperimen. (b) Ilmu-ilmu yang muncul secara aktual pada anak mumayyiz, yaitu hukum-hukum akal yang termasuk ilmu-ilmu a priori. (c) Ilmu-ilmu yang diperoleh dari eksperimen mengenai ihwal sesuatu, dan (d) Keberhasilan gazirah itu dalam mengetahui akibat segala sesuatu dan mengendalikan naluri syahwat secara proporsional. Yang pertama, pilihan al-Ghazaly, menunjuk potensi sebagai asas dan sumber, yang kedua menunjuk cabang terdekat, yang ketiga menunjuk cabang dari yang pertama dan kedua, sebab dengan gazirah itulah, ilmu-ilmu a priori dan inferensial diperoleh, sedang yang keempat menunjuk buah.
Diri manusia sebagai ibarat kerajaan, qalbu adalah pusat (istana), sedang akal adalah rajanya, yang semua potensi lahir dan batin adalah aparatnya, dan semua organ tubuh adalah rakyatnya. Begitu kira-kira gambaran posisi akal pada diri manusia dalam pandangan al-Ghazaly. Ini sesuai realitas bahwa meskipun dalam qalbu terkumpul empat unsur sifat, yaitu ketuhanan pada akal ibarat hakim budiman, kehewanan pada syahwat ibarat babi, kebinatangan-buasan pada pada gadab ibarat anjing, dan kesetanan pembuat makar dan kejahatan, tetapi ciri khas kemanusiaan adalah ilmu dan ikhtiar pada akal. Dengan demikian, akal menduduki posisi sentral dan merupakan inti hakikat manusia yang membedakannya dari hewan dan setan.[7]Karena itu, al-Ghazaly kadang mengidentikkan akal dengan qalbu dalam arti metafisis, sebagai inti hakikat manusia.[8]  
                Al-Ghazaly memberikan penghargaan yang tinggi dan perhatian khusus terhadap akal sampai akhir hayatnya. Sebagai bukti, dalam ihya>, al-Ghazaly menyediakan satu bab khusus untuk membicarakan kemuliaan akal, esensi, dan macam-macamnya, serta fungsi dan kapabilitasnya. Dia begitu yakin bahwa potensi akal cukup kapabel untuk menangkap bukan saja yang terbatas, tetapi juga yang tak terbatas. Akal sebagai cermin yang dapat menangkap obyek sebagaimana realitasnya, adalah bersih dari kesalahan. Kalaupun pemikiran seseorang salah, kesalahan bukan terletak pada akal, tapi karena ia dikuasai khaya>l dan wahm.
Dengan akal dan logika, al-Ghazaly memang bisa menemukan Tuhan, dengan teori kosmologi seperti dalam al-iqtis}a>d. Meskipun dalam al-munqi>dh, ia mengaku bahwa keimanannya kepada Allah, Rasul, dan Hari Akhir secara global sebagai pangkal bukan berdasarkan argumen tertentu, tapi oleh sebab-sebab yang kompleks sepanjang proses pencarian kebenaran.
Pada sisi lain, kata ‘aql (akal) tidak ditemukan dalam al-Qur’a>n, yang ada adalah bentuk kata kerja masa kini, dan lampau.[9] Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali pengikat, penghalang. Al-Qur’a>n dalam menggunakan akar kata ‘aql mengandung tiga makna sebagaimana berikut:
a.       Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman-Nya dalam Q.S. Al-Ankabut 43:
šù
43.  Dan perumpamaan-perumpamaan Ini kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

Daya manusia dalam hal ini berbeda-beda. Ini diisyaratkan Al-Qur’a>n antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan Allah swt. bagi “orang-orang yang berakal” (Q.S. Al-Baqarah 164), dan ada juga bagi Ulil Alba>b yang juga dengan makna sama, tetapi mengandung pengertian lebih tajam dari sekedar memiliki pengetahuan.

b.      Dorongan mental, seperti firman-Nya:


151.  Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

c.  Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta “hikmah”
Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berfikir. Sebagaimana dalam Q.S. Al-Mulk 10:
  
10.  Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".

Dari akar kata ‘aql yang digunakan dalam al-Qur’a>n beserta variasi maknanya, pandangan al-Ghazaly mengenai akal sebagai sarana pencapaian ilmu nampaknya lebih sesuai pada  makna “daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah.” Dari ketiga ayat tersebut di atas, al-Qur’an mengindikasikan baik secara eksplisit maupun implisit bahwa dengan akal manusia akan dapat memperoleh pengetahuan, dengan memahami, menganalisis, menyimpulkan serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berfikir.

Intuisi (Zauq atau wijdan)
Al-Ghazaly tidak menyebut terma “zauq”, “wijdan” dan yang sepertinya sebagai potensi tersendiri, kecuali di beberapa tempat. Dalam Misyka>t, misalnya, ia menjelaskan adanya lima macam ruh manusia yang semuanya merupakan cahaya untuk melihat objek tetapi derajatnya gradual, yaitu: ru>h hisa>s, ru>h khaya>l, ru>h aqli, ru>h fikri,dan ru>h qudsi nabawi. Ruh terakhir, yang disebut pula “zauq khas nabawi” (intuisi khusus kenabian) atau “wijdan” (intuisi), hanya dimiliki para nabi dan wali, yang dengannya, dunia metafisis yang transenden terlihat jelas. Menurut al-Ghazaly, kelima ruh ini dalam al-Qur’a>n dimisalkan sebagai berikut: ru>h hisa>s dengan misyka>t (tempat pelita), ru>h khaya>l dengan zuja>jah (kaca), ru>h aqli dengan sira>j muni>r (pelita yang menara), ru>h fikri dengan syajarah muba>rakah (pohon yang diberkati), dan ru>h qudsi nabawi merupakan pemikiran yang genius, ibarat pohon yang “hampir saja minyaknya menyala sekalipun tanpa disentuh api, sebab pada wali, cahayanya hampir saja menyala sendiri sehingga hampir tidak membutuhkan bantuan para nabi, dan diantara nabi, hampir saja tidak membutuhkan bantuan malaikat. (al-Ghazaly, misyka>t, hlm. 106-116). 
            Yang dimaksud al-Ghazaly adalah adanya potensi atau sarana lain di atas akal dalam arti pikiran, yang dapat menjangkau apa yang tak terjangkau akal. Ringkasnya, bahwa adanya objek transendental serta sarana dan proses yang dapat menjangkaunya, yaitu zauq atau wijdan yang dapat menerima wahyu pada nabi dan ilham pada wali, merupakan kemungkinan rasional.
            Ilham sendiri adalah peringatan jiwa universal kepada jiwa parsial manusiawi berdasarkan kadar kejernihan, penerimaan, dan kekuatan kesiapannya. Ilham adalah kelanjutan wahyu. Sebab, wahyu menjelaskan perkara gaib, sementara ilham merincinya. Ilmu yang diperoleh dari pengilhaman dinamakan dinamakan ilmu ladunni, yaitu ilmu yang didalam memperolehnya, tidak ada perantara - yang menghubungkan – antara jiwa dan pencipta.[10]
Diantara 114 surat yang terdapat dalam al-Qur’a>n, sebagian di dalamnya mengandung ayat-ayat yang menjelaskan adanya pengajaran yang diberikan langsung oleh Allah kepada hambanya. Seperti terdapat pada surat al-Kahfi ayat 65:

65.  Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.[11]

                Pada surat An-Nisa’ ayat 113 juga tersebut mengenai pengajaran Allah kepada Nabi Muhammad saw:
  
113. Dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.

Pemerolehan ilmu dengan intuisi, tidaklah dapat diperoleh sembarangan orang. Apabila jiwa seseorang telah dipersucikan (tazkiyah) daripada pengaruh hawanafsu dan keinginan jahat, sampai bersih murni laksana kaca, maka timbullah nu>r dalam dirinya dan menerima dia akan nu>r dari luar; itulah yang disebut nu>run ‘ala nu>rin! Maka bertambah dekatlah jaraknya dengan Allah dan jadilah dia orang yang muqarrabi>n. Kalau telah sampai pada maqa>m yang demikian, mudahlah dia menerima langsung ilmu dari Ilahi, baik berupa wahyu serupa yang diterima Nabi dan Rasul, atau berupa ilham yang tertinggi martabatnya, yang diterima oleh orang yang S}ali>h}.[12]
Sementara di sisi lain, mengenai gambaran al-Ghazaly terkait kelima ruh sebagaimana disebutkan di atas, yakni ru>h hisa>s, ru>h khaya>l, ru>h aqli, ru>h fikri,dan ru>h qudsi nabawi tepatnya terdapat pada surat An-Nur ayat 35:
  
35.  Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya),[13] yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Mengenai ilham, penulis hanya menemukan satu ayat yang membicarakannya, tepatnya yang termaktub pada surat Al-Syams ayat 8:

8.  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
                Tetapi ayat ini menurut pandangan Hamka tidak dikhususkan bagi para wali, melainkan diberilah setiap diri itu Ilham oleh Tuhan.[14] Artinya bahwa setiap orang diberi akal buat menimbang, diberikan kesanggupan menerima Ilham dan petunjuk. Semua orang diberitahu mana yang membawa celaka dan mana yang akan selamat. Itulah tanda cinta Allah kepada hambanya. Di surat al-Bala>d pada ayat 10 dikatakan juga:

10.  Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan,[15]
Sebagaimana telah teruraikan di atas itulah pandangan al-Ghazaly mengenai sarana pencapaian ilmu serta sekilas perspektif al-Qur’a>n yang boleh jadi dapat menggambarkan adanya relevansi antara pandangan al-Ghazaly dengan al-Qur’a>n.

Kesimpulan
            Dari tulisan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga sarana yang direkomendasikan al-Ghazaly merupakan sebuah sintetik-integralistik yang mengombinasikan empirisme dengan rasionalisme dan intuisionisme, dengan cara menempatkan ketiga sarana pencapaian ilmu, yaitu pancaindra, akal, dan intuisi, pada proporsinya masing-masing. Selain itu konsep yang diajukan al-Ghazaly tersebut menurut hemat penulis sejalan dengan al-Qur’a>n. Sebagaimana penulis cantumkan ayat-ayat yang bermotif sama dengan pemikiran hujja>t al-Isla>m itu. Berawal dari adanya relevansi antara pandangan al-Ghazaly dengan al-Qur’a>n mengenai sarana pencapaian ilmu, penulis mengamini pandangan tersebut serta mengimani apa yang digagas oleh al-Qur’a>n.  

  


Daftar Pustaka

Al-Qur’a>n dan Terjemahnya. Departemen Agama, 1992.

Anwar, Saeful. Filsafat Ilmu Al-Ghazaly. Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Ghazaly, Abu Hami>d Al. Al-munqi>dz Min al-Dhala>l. Surabaya: Pustaka Progresif, 2001.

Ghazaly, Abu Hami>d Al. Risalah-Risalah Al-Ghazaly. Bandung: Pustaka Hidayah, 1997.

Hamka, Tafsi>r al-Azhar juzu’ IX. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

Hamka, Tafsi>r al-Azhar juzu’ XV. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

Hamka, Tafsi>r al-Azhar juzu’ XXX. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

Ilyas, Yunahar dan Azha>r Muhammad. Pendidikan Dalam Perspektif al-Qur’a>n. Yogyakarta: LPPI, 1999.

Rowi, M. Roem. Al-Qur’a>n, Manusia & Moralitas, Sidoarjo: Amanah Jaya, 1997.

Shiha>b, M. Quraish. Membumikan al-Qur’a>n, Bandung: Mizan, 1992.

Shiha>b, M. Quraish. Wawasan al-Qur’a>n, Yogyakarta: Mizan, 1998.

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2003.







[1] M. Quraish Shiha>b, Membumikan Al-Qur’a>n (Bandung: Penerbit Mizan, 1992) hlm 83. Lebih lanjut periksa pada Prof. Dr. Hasan Hanafi, Al-Yami>n wa Al-Yasa>r Fi> Al-Fikr Al-Di>ni>y, Madbuliy, Mesir 1989, hlm 77.
[2] Saeful Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazaly (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 91. Lihat lebih lanjut al-Juwaini, Kitab al-Irsya>d, hlm.12-13).
[3] M. Quraish Shiha>b,………62.
[4] Common sense (pengetahuan biasa, yakni pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan istilah common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karena memang itu merah, benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebaginya.
[5] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu: Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2003) hlm 22.
[6] Hamka, Tafsir al-Azhar juzu’ IX (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983) hlm 171.
[7] Saeful Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazaly (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 186. Lihat lebih lanjut pada  al-Ghazaly, ihya>’ jld. III, hlm. 7-11.
[8] Ibid, jld. III, hlm. 3-4.
[9] Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’a>n, (Yogyakarta: Mizan, 1998) hlm 294.
[10] Al-Ghazaly, Risalah-Risalah Al-Ghazaly (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997) hlm 114.
[11] Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.
[12] Hamka, Tafsir al-Azhar juzu’ XV (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983) 232.
[13] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.
[14] Hamka, Tafsir al-Azhar juzu’ XXX (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), 169-170.
[15] yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan.

Tidak ada komentar: